17.12.14

Mengapa Umat Islam (Muslim) Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal?

Jawaban singkatnya: "Karena Tuhan adalah Maha Esa (Satu)"

Semua pemeluk agama di Indonesia bahkan di seluruh dunia kalau ditanya apakah "Tuhan" yang yang mereka imani selama ini adalah Tuhan Yang Maha Esa? Jawaban mereka semua sama dan pasti bahwa Tuhan yang mereka imani dan sepakati adalah Tuhan Yang Maha Esa juga Maha Pencipta, Maha Suci, Maha Perkasa dst. TAPI pada kenyataanya...
  • Mereka tidak cemburu atau minimal mempertanyakan kalau Tuhan "Yang Maha Esa" yang mereka imani itu bermakna lebih dari satu bahkan dikatakan mempunyai anak.
  • Mereka tidak cemburu dan berfikir mengapa Tuhan "Yang Maha Pencipta" yang mereka imani itu sama atau disamakan dengan manusia -makhluk ciptaan-Nya-.
  • Mereka tidak cemburu atau marah kalau Tuhan "Yang Maha Suci" yang mereka sucikan itu direndahkan dengan cara diberi suguhan sesaji makanan, minuman atau bahkan asap dupa yang kotor.
  • Mereka tidak cemburu dan merasa aneh kalau Tuhan "Yang Maha Perkasa" yang mereka imani itu digambarkan dengan sebuah patung yang tak berdaya.
  • ...
Begitulah kenyataannya bahwa pondasi atau dasar keimanan mereka dalam beragama terutama yang berhubungan dengan sifat-sifat Ketuhanan termasuk di dalamnya sifat Tuhan Yang Maha Esa tidak dibangun oleh prinsip-prinsip yang BENAR dan kuat sehingga dengan pertanyaan yang sederhana saja bangunan keagamaan mereka mudah goyah bahkan menjadi hancur. 

Non Muslim Harusnya Berterimakasih kepada Islam dan Umat Islam
Karena Islam adalah rahmatan lil alamin?

Non Muslim (Kristen, Hindu, Budha dll) "harusnya" bersyukur dengan kedatangan Islam dan berterimakasih kepada umat Islam yang telah dan terus memberi tahu, mengingatkan, "menolak" (baca: meluruskan), "membenci" (baca: mengingkari) serta menasehati (mendakwahi) mereka yang non Muslim.

Berikut sebagian "kasih sayang" umat Islam kepada mereka:
  1. Mengingatkan kepada umat Kristen, bahwa tanggal 25 Desember (NATAL) itu bukanlah hari kelahiran Yesus (Nabi Isa alaihissalam).
  2. Meluruskan kepada umat Kristen, bahwa Yesus itu bukanlah Tuhan seperti yang selama ini mereka imani (baca: persangkakan). Ref. 1 | Ref. 2 | Ref. 3 | Ref. 4
  3. Memberi tahu kepada umat yang sering menyembah dan mengagungkan gambar dan patung, bahwa Roh atau Dewa penghuni gambar, PATUNG atau pohon yang selama ini mereka ibadahi dengan cara diberi sesaji, bertapa dan meminta kepadanya adalah syetan dari jenis jin dan bukanlah Tuhan. Referensi
  4. Mendakwahi kepada semua manusia, bahwa Tiada Tuhan yang berhak untuk disembah dan diibadahi dengan benar kecuali Allah ta'ala Yang Maha Esa. (Lihat QS Al Ikhlash di bawah!)
  5. ►Ataukah syetan telah menguasai dan memalingkan jiwa dan hati mereka sehingga bersikap sebaliknya terhadap Islam dan umat Islam?
Allah azza wa jalla adalah Tuhan satu-satunya di semesta ini, tiada Tuhan selain Dia yang berhak untuk disembah dan diibadahi dengan benar. Maka wajar dan seharusnya...
    No God but Allah!
  • Manusia yang beriman akan cemburu atau bahkan marah jika Allah "Tuhan Yang Maha Esa" dikatakan banyak dan bahkan dikatakan mempunyai anak.
  • Manusia yang beriman akan cemburu atau bahkan marah jika Allah "Tuhan Yang Maha Pencipta" disamakan dengan manusia atau makhluk lain ciptaan-Nya.
  • Manusia yang beriman akan cemburu atau bahkan marah jika Allah "Tuhan Yang Maha Suci" dan "Yang Maha Tinggi" direndahkan dengan cara diberikan suguhan sesaji makanan, minuman atau bahkan asap yang kotor.
  • Manusia yang beriman akan cemburu atau bahkan marah jika Allah "Tuhan Yang Maha Perkasa" digambarkan/divisualisasikan dengan sebuah gambar atau patung yang tak berdaya.
  • ...
Bismillahirrahmanirrahiim,
Katakanlah (wahai Muhammad): "Dia-lah Allah, (Tuhan) Yang Maha Esa/Ahad/Satu. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." QS Al Ikhlash (Kemurnian) 1-4.

Subhanallah, Allahu Akbar!

Maka...
  • Umat Islam yang beriman tidak akan pernah melaksanakan do'a lintas agama yang pada hakekatnya adalah adanya pengakuan akan "keberadaan dan keberagaman Tuhan lain selain Allah ta'ala Yang Maha Esa", padahal setiap muslim telah mengimani dan bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk disembah dan diibadahi -do'a termasuk di dalamnya- dengan benar kecuali hanya Allah saja Yang Maha Esa -Laa illaaha illa Allah- yang berarti sekaligus meniadakan tuhan-tuhan yang lain selain Allah ta'ala.
  • Umat Islam tidak dibenarkan untuk mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen karena dengan cara demikinan berarti umat Islam secara tidak langsung telah "mengakui" atau "meng-iyakan" bahwa ada Tuhan lain selain Allah ta'ala Yang Maha Esa yang bernama Yesus yang berbentuk manusia dan disebut juga sebagai anak Tuhan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan kalimat syahadat Laa illaaha illa Allah yang telah setiap Muslim ikrarkan/persaksikan.
  • ...
  • [Download] Fatwa MUI tentang Pluralisme
  • ►Pelangi dalam Islam

Wallahu 'alam.

13.12.14

Karena Hujan adalah Rahmat

Di Jakarta: Musim hujan berarti banjir?
Apakah hujan bisa ditolak atau dipindahkan?


Hujan adalah "rahmat"
QS Al A'raaf 57. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

QS Al Furqaan 48-49. Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.
Ada Malaikat yang bernama Mikail
QS Al Baqarah 98. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
"Mikail adalah Malaikat yang salah satu tugasnya adalah mengurus hujan"

Dalam Al Mu’jam Al Kabir, Imam Ath Thobroni meriwayatkan tentang percakapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan malaikat Jibril, di antaranya,
“Aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya, “Tentang apakah Mikail itu ditugaskan? Ia (yaitu Jibril) menjawab, “Ia ditugaskan mengurus tanaman dan hujan.”
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan bahwa dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Abi Laila. Ia telah didha’ifkan (dilemahkan) karena jeleknya hafalan, namun ia tidak ditinggalkan. Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah mengatakan bahwa hadits ini ghorib dari sisi ini.

Ibnu Katsir menjelaskan, “Mikail ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan yang darinya berbagai rizki diciptakan di alam ini. Mikail memiliki beberapa pembantu. Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka melalui Mikail berdasarkan perintah dari Allah. Mereka mengatur angin dan awan, sebagaimana yang dikehendaki oleh Rabb yang Maha Mulia.  Sebagaimana pula telah kami riwayatkan bahwa tidak ada satu tetes pun air yang turun dari langit melainkan Mikail bersama malaikat lainnya menurunkannya di tempat tertentu di muka bumi ini.”

Suatu Sunnatullah (ketetapan Allah ta'ala) bahwa "Malaikat rahmat" tidak akan masuk ke rumah yang ada anjing dan gambar/patung makhluk hidup di dalamnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya): “ Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing, juga tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar /patung” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]
Dan ada dalil yang menyatakan bahwa manusia dan jin -dua jenis makhluk Allah ta'ala yang berbeda alam- bisa bekerja-sama, tapi hubungan tersebut sangat riskan karena dapat menjerumuskan manusia ke dalam DOSA (syirik) dan kesalahan (kesusahan).
QS Al Jin 6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.


►►►
  • Malaikat, rahmat (hujan), manusia dan jin adalah makhluk-makhluk ciptaan Allah ta'ala.
  • Hujan adalah salah satu rahmat yang diurus oleh Malaikat rahmat (Mikail)?
  • Malaikat rahmat tidak bisa memasuki suatu rumah karena keberadaan makhluk Allah ta'ala yang lainnya yang bernama anjing dan juga gambar/patung (makhluk yang bernyawa) yang biasanya dimanfa'atkan oleh makhluk Allah ta'ala lainnya yang bernama jin (syetan).
So... 

Dengan sunnatullah dan kehendak Allah ta'ala, MAKA salah satu rahmat-Nya yang bernama hujan bisa "tidak jadi turun" atau "tidak jadi masuk" di suatu daerah JIKA di sana "ada penyebab (makhluk Allah ta'ala yang lainnya) yang membuat Malaikat (pembawa) rahmat (hujan) tidak jadi masuk ke daerah tersebut"

Wallahu 'alam.


PERHATIAN: 
ARTIKEL DI ATAS TENTANG BISANYA HUJAN DITOLAK ATAU DIPINDAH ADALAH HASIL ANALISA SAYA SAJA TANPA DIDASARI OLEH HUJJAH YANG KUAT. MOHON UNTUK TIDAK DIJADIKAN ACUAN DAN KESIMPULAN!!!

8.12.14

Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan (Bukan dari Sisi Penguasa)

Kajian Islam Ilmiah Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas
Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan (bukan dari Sisi Penguasa)

Tanggal 30 Nopember 2014, Masjid PUSDAI Bandung (Jl. Diponegoro No.63 Bandung)



►Unduh Audio Kajian (MP3)

18.10.14

Tanda-tanda Husnul Khatimah

  • Mengucapkan kalimat syahadat ketika menjelang maut. (HR Hakim, Ahmad, Ibn. Majah)
  • Mati dengan keringat di dahi. (HR Ahmad, An-Nasa'i, Hakim)
  • Mati pada hari Jum'at (siang atau malam). (HR Ahmad, Tirmidzi)
  •  
  • Mati ketika sedang beramal shaleh. (HR Ahmad) 
  •  
  • Mati "di jalan Allah". (HR Muslim, Ahmad)
  • Mati atau terbunuh (syahid) di dalam "peperangan". (HR Ahmad, Tirmidzi)
  • Mati dalam keadaan berjaga di jalan Allah. (HR Muslim, An-Nasa'i)
  •  
  • Mati karena wabah penyakit tha'un. (HR Bukhari, Ahmad)
  • Mati karena penyakit paru-paru (selaput dada). (HR Ahmad, Abu Dawud)
  • Mati karena penyakit TBC (HR Thabarani)
  • Mati karena penyakit perut (HR Muslim, Ahmad)
  •  
  • Mati karena tenggelam. (HR Bukhari, Muslim)
  • Mati karena terbakar. (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i)
  • Mati karena tertimbun reruntuhan. (HR Bukhari, Muslim)
  •  
  • Mati karena kehamilan/kelahiran anaknya (HR Ahmad, Ad-Darimi)
  •  
  • Mati karena membela agama atau nyawanya. (HR Ahmad, Dawud)
  • Mati karena membela/mempertahankan harta miliknya. (HR Bukhari, Muslim)


“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu‘anhu)



Tanda Jika Allah Menghendaki Kebaikan Bagi Seorang Hamba...

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا
أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ).

(Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Allah menyegerakan hukuman bagi (hamba) tersebut di dunia. Akan tetapi, apabila menghendaki keburukan kepada hamba-Nya, Dia menangguhkan dosa (hamba) tersebut hingga Dia membalasnya nanti pada Hari Kiamat.”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya adalah dengan menyegerakan hukuman atas dosa-dosanya ketika di dunia sehingga ia keluar dari dunia tidak ada lagi dosa yang harus ditanggung (hukumannya) pada hari kiamat, karena barangsiapa yang dihisab amalannya di dunia maka akan ringan hisabnya nanti di hari kiamat.

Adapun di antara tanda kalau Allah menghendaki hal yang buruk bagi hamba-Nya adalah bahwa hamba tersebut tidak ditunaikan pembalasan dosa-dosanya di dunia sampai ia datang pada hari kiamat dengan penuh dosa-dosa, kemudian Allah memberikan balasan hukuman padanya. Maka ia diberikan ganjaran yang pantas baginya pada hari kiamat.

Pada hadits ini terdapat anjuran untuk bersabar terhadap musibah-musibah dan untuk ridha dengan ketentuan takdir, karena hal tersebut akan membawa kebaikan bagi hamba.

Faedah Hadits:
  1. Tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, yaitu dengan menyegerakan pelaksanaan hukuman atas dosa-dosa hamba tersebut di dunia.
  2. Tanda kalau Allah menghendaki hal yang jelek bagi hamba-Nya, yaitu dengan ditangguhkannya hukuman atas dosa-dosanya di dunia sampai nanti diberikan hukuman pada hari kiamat.
  3. Kekhawatiran kalau mendapatkan kesehatan terus menerus, menjadi tanda kejelekan.
  4. Peringatan agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan berharap (kebaikan) pada-Nya atas apa yang ditentukan oleh-Nya dari adanya hal-hal yang tidak disukai (yang menimpa dirinya).
  5. Bahwa manusia terkadang membenci sesuatu, padahal sesuatu itu lebih baik baginya, dan terkadang mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu lebih jelek baginya.
  6. Anjuran untuk bersabar akan musibah-musibah.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]


Must Read:

9.10.14

3 (Tiga) Landasan Utama

Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Saudaraku,
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda.

Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat perkara, yaitu:
  1. Ilmu; mengenal Allah, Rasul-Nya dan Islam berdasarkan dalil-dalil.
  2. Amal; menerapkan ilmu ini.
  3. Dakwah; mengajak orang lain kepada ilmu ini.
  4. Sabar; tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berdakwah kepadanya.
Dalilnya, firman Allah Ta’ala: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta nasehat-menasehati dengan kebenaran dan dengan kesabaran” [Q103 (Al Ashr): 1-3]

Imam Asy-Syafi’i mengatakan: ‘Seandainya Allah hanya menurunkan surah ini saja sebagai hujjah buat mahluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surah ini sbg hujjah bagi mereka.’

Dan Imam Al Bukhari mengatakan: ’Bab ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.’ Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala Q47:19. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) sebelum ucapan dan perbuatan.

Saudaraku,
Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini:
  1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tapi mengutus kepada kita seorang rasul, maka barangsiapa mentaati rasul tersebut pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka. Q73:15-16.
  2. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang nabi yang diutus menjadi rasul. Q72:18.
  3. Bahwa barang siapa mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun itu keluarga terdekat. Q58:22.
Saudaraku,
Ketahuilah, bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan hanya itu sebenarnya mereka diciptakan-Nya. “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah/mengabdi kepada-Ku” [Q51:56].

Ibadah, dalam ayat di atas, artinya tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata. Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah selain Allah disamping menyembah-Nya. “Sembahlah Aku dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya” [Q4:36].

Kemudian, apabila Anda ditanya: Apakah 3 Landasan Utama yang wajib diketahui oleh manusia? Maka hendaklah Anda jawab: Yaitu mengenal Allah Azza wa Jalla; mengenal agama Islam; dan mengenal Nabi Muhammad SAW.


1. MENGENAL ALLAH, ‘AZZA WA JALLA

Apabila Anda ditanya: Siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah, yang telah memelihara diriku dan semesta alam ini dengan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya. Dan Dialah sembahanku, tiada sesembahan yang haq selain Dia.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara semesta alam” [Q1:1]

Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.

Selanjutnya, jika Anda ditanya: Melalui apa Anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah Anda jawab: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedang diantara ciptaan-Nya adalah: tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” [Q41:37].

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit & bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang ngikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan & bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan & memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” [Q7:54].

Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Dalilnya Q2:21-22.

Ibnu Katsir mengatakan: “Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah.”

Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah swt antara lain:

Islam (rukun Islam), iman, ihsan, do’a, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), inabah (kembali kepada-Nya), isti’anah (memohon pertolongan-Nya), isti’adzah (meminta perlindungan-Nya), istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (pemyembelihan), nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [Q72:18]

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” [Q23:117]

Dalil macam-macam ibadah:
  1. Dalil Do’a: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina” [Q40:60] dan HR At-Tirmidzi “Do’a adalah sari ibadah.”
  2. Dalil khauf: “…Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Q3:275]
  3. Dalil raja’: “…Untuk itu, barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Q18:110]
  4. Dalil tawakkal: Q5:23 dan “…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya…” [Q65:3]
  5. Dalil raghbah, rahbah dan khusyu’: “…Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan kebaikan-kebaikan) serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.” [Q21:90]
  6. Dalil khasy-yah (takut): Q2:150
  7. Dalil inabah: “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah-dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum dating adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)” [Q39:54]
  8. Dalil isti’anah: Q1:4 dan HR At-Tirmidzi “Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah
  9. Dalil isti’adzah: Q113:1 dan Q114:1-2
  10. Dalil istighatsah: Q8:9
  11. Dalil dzabh: Q6:162-163 dan Hadits: “Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah…
  12. Dalil nadzar: Q76:7

2. MENGENAL ISLAM

Islam, adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dan agama Islam dalam pengertian tsb mempunyai 3 (tiga) tingkatan, yaitu: islam, iman dan ihsan. Masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

Rukun Islam (5)
1. Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan), bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Dalil yang berhubungan dengan syahadat: Q3:18, Q43:26-28, Q3:64 dan Q9:128.

Syahadat “Laa ilaaha illallaah” mengandung dua unsur: menolak dan menetapkan; menolak segala sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam penyembahan Allah, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu dalam kekuasaan-Nya.

Syahadat “Muhammad rasulullaah” berarti mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

2. Mendirikan Shalat. Adapun dalil shalat dan zakat serta tafsiran tauhidnya: Q98:5.
3. Zakat.
4. Shiyam (puasa). Dalilnya: Q2:183
5. Haji. Dalilnya: Q3:97

Rukun Iman
Iman itu lebih dari 70 (tujuh puluh) cabang. Cabang yang paling tinggi adalah Syahadat “laa illaaha illallaah”, sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada 6:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada para Malaikat-Nya
  3. Iman kepada Kitab-kitab-Nya
  4. Iman kepada para Rasul-Nya
  5. Iman kepada hari Akhirat
  6. Iman kepada qadar*) yang baik maupun yang buruk.
Dalil dari rukun iman: Q2:177 dan Q54:49

*)Qadar; takdir: ketentuan Allah. Yaitu iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah diketahui, dicatat, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah SWT.

Rukun Ihsan
Ihsan rukunnya hanya satu, yaitu: Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Dalilnya: Q16:128, Q26:217-220, Q10:61 dan Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Al Bukhari.


3. MENGENAL NABI MUHAMMAD SAW

Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthalib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putra Nabi Ibrahim alaihisallam. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Tempat asal beliau adalah Makkah. Beliau berumur 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi serta rasul.

Beliau diangkat sebagai nabi dengan ‘Iqra’ dan diangkat sebagai rasul dengan surat ‘Al Mudatstsir’.

Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. seperti dalam dalil Q74:1-7: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikanlah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Seta bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu”.

Beliaupun melaksanakan perintah ini (mengajak kepada tauhid) dengan tekun dan gigih selama 10 tahun. Setelah 10 (sepuluh) tahun, beliau di-mi’raj-kan (diangkat naik) ke atas langit dan disyariatkan kepada beliau shalat 5 waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama 3 tahun. Kemudian sesudah itu beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.

Hijrah pengertiannya adalah pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.

Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Dan kewajiban tsb hukumnya tetap berlaku sampai hari Kiamat. Adapun dalilnya: Q4:97-99, Q29:56 dan HR Ahmad: “Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat”.

Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf & nahi mungkar serta syariat-syariat Islam lainnya.

Beliau pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama 10 (sepuluh) tahun. Setelah itu beliau wafat, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.

Inilah agama (din) yang beliau bawa: Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan adalah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi adalah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

Nabi Muhammad SAW diutus Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. “Katakanlah… Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua” [Q7:158].

Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita. “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu nikmat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” [Q5:3].

Adapun dalil yang menunjukan bahwa beliau juga wafat adalah: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari Kiamat berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu” [Q39:30-31].

Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan kembali. “Berasal dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami kembaliakan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi.” [Q20:55] serta Q71:17-18.

Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, Q53:31. Barang siapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir, Q64:7.

Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai khabar gembira dan pemberi peringatan, “(Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai khabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu…” [Q4:165].

Rasul pertama adalah Nabi Nuh AS dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, serta beliaulah penutup para nabi. Q4:163.

Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut*), Q16:36. Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

*)Thaghut: setiap yang diperlakukan manusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi. (Ibnu Al Qayyim)

Thaghut banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada 5 (lima):
  1. Iblis, yang telah dilaknat Allah
  2. Orang yang disembah, sedang dia sendiri rela
  3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya
  4. Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib
  5. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah ditetapkan Allah.
Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini.Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Maka barang-siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha Mendengan lagi Maha Mengetahui.” [Q2:256].

Ingkar kepada semua thaghut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas adalah hakekat syahadat “Laa illaaha illallaah

Pokok persoalan (agama) adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah” [HR At Thabarani & At Tirmidzi].

Hanya Allah-lah Yang Maha Tahu, Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarga dan para sahabatnya serta kepada para pengikutnya hingga akhir zaman.


Unduh artikel ini, klik di sini!

17.9.14

Berbisnis dengan Allah Ta’ala

Oleh: Lidus Yardi, Guru Pendidikan Agama Islam dan Sekretaris Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kuansing, Riau.

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS At Taubah: 111)

DALAM hadits riwayat Ibnu Jarir dikisahkan, seorang sahabat, namanya Abdullah bin Rawahah RA bertanya kepada Rasulullah SAW. Apa saja kewajiban terhadap Tuhanmu dan dirimu yang kamu tetapkan atas diriku? Rasulullah SAW menjawab: “Aku telah menetapkan agar selalu beribadah kepada Tuhan dan tidak syirik dengan apapun. Sedangkan terhadapku, agar selalu menjagaku sebagaimanan kamu menjaga diri dan hartamu”. Ia bertanya lagi: Apa balasanku, jika aku melaksanakan semuanya? Rasulullah SAW menjawab: “Surga balasannya”. Ia lalu berkata: Itu merupakan jual beli yang menguntungkan. Kami takkan membatalkannya (Dr. Ahmad Hatta, MA., Tafsir Alqur’an Perkata, 2009).

Dialog antara Abdullah dengan Rasulullah SAW di atas menjadi sebab turunnya (asbabul al nuzul) firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (QS At Taubah: 111). Potongan ayat ini menjelaskan tentang penghargaan Allah SWT terhadap para syuhada. Namun bila dimaknai dalam konteks kehidupan, ayat tersebut menjelaskan proses transaksi atau jual beli antara orang-orang mukmin dengan Allah SWT.
Rukun jual beli dalam ayat tersebut terpenuhi. Pertama, penjual yakni orang-orang mukmin. Kedua, pembeli yakni Allah SWT. Ketiga, barang yang diperjual-belikan. Ayat di atas menjelaskan dua barang yang diperjual-belikan, yaitu diri (anfusahum) dan harta (amwaalahum). Keempat, harganya yaitu surga (jannah). Dan Keenam, harus ada ijab-qabulnya. Melalui ayat 111 surat At Taubah tersebut, sesungguhnya merupakan tawaran dari Allah SWT kepada orang mukmin untuk menjual diri dan harta mereka dengan rela (ikhlas).
Menjual diri kepada Allah SWT adalah dengan cara beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Menjual harta kepada Allah SWT maksudnya membelanjakan atau memanfaatkan harta di jalan Allah SWT seperti berinfak, bersedekah, dan membayar zakat. Semua amalan yang melibatkan diri dan harta ini akan mendatangkan pahala berbalaskan surga. Inilah bentuk bisnis seorang mukmin dalam hidupnya dengan Allah SWT.

Menariknya, dalam jual beli yang menentukan harga barang biasanya penjual dan pembeli yang menawar. Namun, jual beli dengan Allah SWT sebaliknya, pembelilah yang menentukan harga barang dan penjual tidak boleh lari dari harga yang ditawar. Mengapa? Karena pembeli yaitu Allah SWT, telah menawar diri dan harta orang Mukmin dengan harga yang sangat tinggi di dunia dan akhirat, yaitu surga. Orang yang beriman tidak mungkin menawar harga diri dan hartanya dengan harga yang sangat murah berupa neraka.

Ingatlah, tidak semua diri dan harta manusia akan dibeli oleh Allah SWT. Sebagaimana tidak semua barang yang dijual di pasar akan dibeli oleh pengunjung. Diri dan harta yang akan dibeli dengan harga surga adalah, diri dan harta yang suci. Allah SWT mengingatkan: Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS Asy Syams: 9-10).

Allah SWT menyeru: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali Imran: 133). Dan, Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya (QS At Tahrim: 8). Rasulullah SAW bersabda, Setiap anak Adam (manusia) bersalah, sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat kepada Allah SWT (HR Ahmad).

Sedangkan menyangkut harta, Rasulullah SAW mengingatkan: ”Barangsiapa yang mengumpulkan harta haram lalu menyedekahkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya dan dosanya dibebankan kepadanya” (HR Ibnu Hibban). Artinya, harta yang dikumpulkan melalui pekerjaan haram meskipun disedekahkan tidak akan dibeli atau diterima oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada konsep kebatilan dicampur dengan kebajikan dalam Islam. Harta yang dibeli oleh Allah SWT adalah harta yang bersih dan suci, alias halal. Halal cara mendapatkannya dan halal dalam pemanfaatannya.

Wallahu A’lam
http://www.eramuslim.com/oase-iman/berbisnis-dengan-allah-taala.htm#.VBjSwEByXFy

19.8.14

Hujan Darah, Hujan Katak..?!!

Hujan Darah (Real Blood) di India...



Baca artikel selengkapnya..!


Hujan Katak di Jepang...


Baca artikel selengkapnya..!


Tadabbur...
Q7.133. "Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, KATAK dan DARAH sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa"

Baca juga: